Bank Sumut
  • Home
  • Under Cover
  • Pasar Tradisioanl Simpang Empat Kembali Bergejolak, Siapa Dibaliknya?

Pasar Tradisioanl Simpang Empat Kembali Bergejolak, Siapa Dibaliknya?

Oleh: Artam
Senin, 26 Agu 2019 16:15
Dibaca: 301 kali
drberita/istimewa
Penertiban pasar tradisional Simpang Empat oleh Satpol PP Pemkab Asahan.
DRBerita | Suasana pasar tradisional Simpang Empat, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, kembali bergejolak. Para pedagang tidak terima lapaknya ditertibkan secara paksa oleh Satpol PP Pemkab Asahan.

Siang itu, Senin 26 Agustus 2019, para pedagang pasar tradisional Simpang Empat, kembali berurusan dengan petugas gabungan dari Pemkab Asahan. Satpol PP dan satuan samping yang terlibat pembongkaran lapak dagangan secara paksa.

Pasar tradisional yang berada di pinggir jalan lintas provinsi, menuju Kota Tanjungbalai, itu sudah ada sejak tahun 80an. Kondisi pasar yang tidak terawat serta menimbulkan aspek sosial, baik itu kemacetan lalu lintas maupun bau yang menyengat. Namun itulah kondisi pasar yang terjadi dan dirasakan sampai saat ini.

Tahun 2017 lalu, Pemkab Asahan infonya sudah melayangkan surat pemberitahuan untuk penertiban pasar tradisional itu. Tetapi sampai saat ini Pemkab Asahan belum mampu membuat solusinya ke pedagang yang ngotot tetap bertahan dan berjualan.

Sampai dengan tahun 2018, Pemkab Asahan mengerahkan Satpol PP dan satuan samping, yaitu polisi dan TNI untuk menertibkan. Tetapi aksi pedagang membuat penertiban tidak berjalan. Sampai saat ini pasar tradisional itu masih tetap beroperasi.

Pedagang ngotot agar Pemkab Asahan memberikan solusi untuk relokasi pasar tradisional. Namun faktanya Pemkab Asahan tidak juga menyiapkan lokasinya. Para pedagang akhirnya tetap bertahan di pasar tradisional Simpang Empat.

"Pajak (pasar) ini sudah puluhan tahun ada di sini. Seenaknya mereka mau mengusir. Ya, harusnya ada lokasi yang disiapkan pemkab untuk kami. Jangan pula kami jadinya terlantar gara-gara kepentingan mereka di pajak ini," ucap seorang pedangan.

Pria yang enggan namanya disebuatkan menceritakan status lokasi pasar tradisional. Katanya, lapak pasar tradisional Simpang Empat, berada di lahan milik pribadi. Lahan itu dikelolah secara pribadi dengan kutipan sewa lapak oleh pemiliknya.

Kepala Desa Simpang Empat Yafit Ham Marpaung membenarkan Satpol PP dari Pemkab Asahan menertiban lapak pedagang pasar tradisional Simpang Empat, Senin 26 Agustus 2019. "Ya bang, ada. Pemda yang melakukannya," ucap Yafit.

Menurut Yafit, sejak tahun 2017 lalu, sudah ada pemberitahuan kepada para pedagang untuk penertiban pasar taradisional Simpang Empat. "Tahun 2018 lalu juga ada penertiban yang dilakukan pemda. Lebih jelasnya coba abang konfirmasi ke pemda," sebutnya.

Di sekitar lahan pasar tradisional, kata pedagang, PT Jampalan Baru, menguasai lahan-lahan yang dibelinya dari penduduk. PT Jampalan Baru, juga sudah membangun kios-kios di lahan yang dibelinya dari penduduk sekitar. Lokasinya persis di belakang pasar tradisional Simpang Empat. Namun kios-kios milik PT Jampalan Baru itu tidak diminati oleh para pedagang. Alasanya, harga sewa kios milik PT Jampalan Baru itu sangat mahal.

Di depan pasar tradisional Simpang Empat juga sudah dibangun kios-kios permanen. Sewa kios-kios itu juga sangat mahal. Para pedagang juga enggan untuk menyewa. Jika dibandingkan dengan harga sewa lapak pasar tradisional, harga sangat jauh berbeda murah.

"Memang ada lokasi di belakang pasar ini, milik PT Jampalan Baru. Di depan pasar ini juga ada kios-kios yang disewakan. Tapi harganya mahal sekali. Sedangkan pemilik lahan pasar tradisional ini masih tetap menyewakan ke kami. Harga sewanya juga masih terjangkau. Entah apa maksud Pemkab Asahan menertibkan kami ini," ucap pedangan.

Pasar tradisional Simpang Empat, ini diketahui sangat seksi dijadikan lokasi transaksi bisnis. Jumlah penduduk Desa Simpang Empat, diketahui 10 ribu lebih berdasarkan DPT Pemilu. Jumlah ini sangat mendukung terjadinya transaksi bisnis.

Lokasinya juga strategis. Lokasinya berada di perbatasan Pemkan Asahan dan Kota Tanjungbalai. Tidak sedikit penduduk Kota Tanjungbalai bertransaksi bisnis di pasar tradisional Simpang Empat. Makanya PT Jampalan Baru, berambisi menguasai lahan yang ada di sekitar pasar tradisional itu.

Apalagi diketahui pemilik lahan pasar tradisional Simpang Empat itu kini tengah disibuki dengan pembagian ahli waris. Situasi itu membuat para pedangan pasar tradisional Simpang Empat semakin panik jadinya. DItambah lagi dengan penertiban yang dilakukan Satpol PP Pemkab Asahan.     

Editor: admin

T#g:desa simpang empatpasar tradisional simpang empatpemkab asahanpt jampalan baruyafit ham marpaung
Berita Terkait
  • Rabu, 07 Agu 2019 14:46

    Rawan Korupsi, Anggaran Swakelola Pemkab Asahan Lebih Besar dari Penyedia

    Total anggaran swakelola dan anggaran penyedia Pemkab Asahan tahun ini sebesar Rp 619.840.000.000 yang terpampang pada sistem rancangan umum pengadaan.

  • Jumat, 10 Nov 2017 23:59

    Gubernur Sumut Tinjau Lokasi Banjir Tiga Daerah

    Tengku Erry didampingi Sekda Langkat Indra Salahuddin mengarungi banjir menggunakan perahu karet di Lingkungan 3 Payakiri, Kelurahan Pelawi Utara, Kecamatan Babalan, Kabupaten Langkat.

  • Sabtu, 02 Sep 2017 20:11

    PNS Pemkab Asahan: Direktur Krimsus Polda Sumut jangan asbun

    Soalnya pernyataan orang nomor satu di jajaran Krimsus Polda Sumut itu sangat bertolak belakang dengan surat KPK tertanggal 25 Agustus 2017 yang saya terima sebegai pelapor.

  • Jumat, 17 Mar 2017 14:08

    Gubernur Sumut Teringat Sepatu Bunut Asahan

    Menciptakan SDM handal sangat penting mendapat dukungan pemerintah daerah untuk mengembangkan sepatu bunut.

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2019 drberita.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir