• Home
  • Under Cover
  • 7 Mucikari Ditangkap, Polda Sumut Akui Kejahatan Seks di Medan Terus Berevolusi

7 Mucikari Ditangkap, Polda Sumut Akui Kejahatan Seks di Medan Terus Berevolusi

Rabu, 08 Nov 2017 00:43
Dibaca: 213 kali
drberita/istimewa
7 Mucikari seks di Polda Sumut.
DINAMIKARAKYAT - Polda Sumut menciduk 7 mucikari dari sejumlah hotel di Medan dan Deliserdang. Ketujuh pelaku ini terlibat kasus memperdagangkan perempuan muda untuk dijadikan pekerja seks komersial (PSK).

"Kasusnya beda-beda. Ada yang terlibat kasus dengan modus mengirimkan tenaga kerja (TKI) ke Malaysia, tapi ujung-ujungnya dijadikan pelacur. Ada kasus prostitusi online dengan memanfaatkan media sosial. Satu lagi kasus prostitusi model tradisional, yaitu menjual kawan sekolahnya," beber Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Sumut Kombes Andi Ryan, Selasa 7 November 2017.

Ketujuh mucikari tersebut terdiri dari 6 perempuan dan 1 laki-laki. Tersangka pria berinisal HPS (32) alias Hendrik, warga Dusun Pekan, Kelurahan Pangkalan Palang, Kecamatan Pangkatan, Labuhanbatu.

Sedangkan mucikari perempuan, yakni IP (22) dan Y (24) warga Sunggal, AB (19) dan P (26), PA (23) alias Siska, warga Grobokan Purwodadi dan CNS (17), siswa SMA di Medan.

Andi Ryan menjelaskan, Hendrik, IP, Y dan AB serta P merupakan mucikari yang menawarkan jasa seks melalui media sosial, khususnya twitter dan instagram untuk menjual perempuan muda dalam bisnis prostitusi. Sedangkan CNS, yang masih pelajar nekat menjual teman sekolahnya sendiri kepada lelaki hidung belang.

"Kalau Siska, dia mucikari yang menjual perempuan dengan modus mengirim TKI. Ia bermain di Jogja. Ia memantau potensi cewek-cewek nakal. Lalu didekati dan direkrut dengan menjanjikan jadi TKI. Calon korbannya dikirim ke Malaysia, awalnya jadi terapis di tempat spa namun ujung-ujungnya dijadikan pelacur," beber Andi Ryan.

Terungkapnya kasus ini ketika 25 Oktober lalu, polisi mengamankan 2 perempuan dari Hotel Wings di Tanjung Morawa. Kedua perempuan itu, yakni Siska (mucikari) dan SF (korban).

Siska hendak mengirimkan SF ke Malaysia via Bandara Kualanamu. Siska menjanjikan kepada SF untuk dipekerjakan sebagai terapis spa di Hotel Cassanova, Jalan Alor Bukit Bintang, Kuala Lumpur.

Di tangan Siska ada 5 paspor lagi dengan nama berbeda serta tiket pesawat ke Kuala Lumpur. Ternyata pelaku Siska dan korban SF serta 5 nama lainnya yang akan berangkat ke Malaysia tidak dilengkapi dokumen resmi, hanya paspor sebagai pelancong.

Polisi yang menyaru sebagai sopir taksi online lalu berperan mengantar korban ke Bandara Kualanamu. Di bandara, polisi kemudian mengamankan 2 korban lainnya yang sedang menunggu pesawat untuk berangkat ke Malaysia. Kedua korban lainnya ini perempuan berinisial AD dan EW.

"Siska ini membelikan tiket pulang pergi untuk para korbannya, sehingga mereka bisa pulang-pergi sekali sebulan. Tujuannya agar kedoknya tidak terbongkar. Kan paspornya untuk melancong. Namun tiket yang dibelinya wajib dibayar kembali oleh para korban melalui pemotongan honor kerja sebagai PSK. Ini kan namanya menjerat korban lagi dengan modus beban utang," timpal Kasubdit 4/Renakta Ditreskrimum Polda Sumut, AKBP Sandy Sinurat.

Sandy menambahkan, pihaknya menyelidiki kasus ini dengan mengirim tim investigatif ke Malaysia. Para korbannya, kata dia, oleh lelaki hidung belang, dibawa ke hotel. "Kami sedang mengembangkan kasus ini. Kami juga sudah koordinasi dengan pihak KBRI dan konsulat di Malaysia," ungkapnya.

Untuk kasus prostitusi online, Sandy Sinurat membeberkan pengungkapan berawal dari masuknya pesan singkat (sms) ke nomor hapenya. Isinya membocorkan akun-akun twitter dan instagram yang khusus menawarkan jasa seksual.

"Saya tak tau siapa pengirimnya. Namun tim kami menyelidiki informasi tersebut. Dan ternyata, akun-akun yang disebutkan itu benar terlibat kasus prostitusi. Nah sudah mantap ini, pikirku. Langsung kami buru," beber Sandy Sinurat.

Tim pun dipecah. Ada menyelidiki akun twitter @nonniemedan dan whatsapp Nonnie Medan. Terungkaplah mucikari berinisial HPS alias Hendrik. Akun ini menyediakan wanita PSK dengan tarif bervariasi. Short time Rp1,5 juta, long time Rp3 juta.

"Kami pancing. Hari Kamis kemarin, anggota menyaru sebagai pengguna jasa PSK. Uang sejuta kami transfer ke rekening atas nama Nurul Wahida untuk membooking dua PSK," terang Sandy.

Esoknya, akun @nonnie mengirimkan dua PSK ke Hotel Soechi di Jalan Cirebon, kamar 725. Kedua PSK itu inisial NCGS alias Nova (21) warga Helvetia dan NCSAP (22) alias Putri warga Sergai.

Jam 03.00 wib, personil menggali informasi dari kedua PSK kemudian kembali mengontak akun @nonniemedan untuk memancingnya. Personil yang menyaru meminta agar kedua PSK itu diperpanjang masa bookingnya hingga 2 hari lagi dengan janji menambah bayaran Rp10 juta. Namun uang muka untuk perpanjangan hanya dijanjikan Rp1 juta.

Pemilik akun @nonniemedan pun mau bertemu untuk transaksi di hotel. Setelah memakan 'umpan', Hendrik pun diringkus polisi lalu diboyong ke Polda Sumut.

Selain mengamankan kedua korban yang dijadikan PSK, dari tangan Hendrik polisi menyita uang tunai Rp3 juta, 4 hape, 2 lembar kartu ATM, 1 buku tabungan, selembar slip setoran senilai Rp2 juta, 1 unit sepeda motor BK 6670 YAC dan STNK atas nama dokter Rosmina.

Polda sumut juga menciduk mucikari lain terlibat kasus prostitusi online. Tersangka inisial IP dan Y ditangkap di Hotel Emerald Garden, Jalan Yos Sudarso, dengan barang bukti 6 buah kondom, sebuah hape, uang kontan Rp900 ribu dan selembar kartu ATM.

Dari pengungkapan ini, polisi menyelamatkan 2 orang korban, yakni perempuan muda inisial In (24) dan El (24).

Masih terkait kasus prostitusi online, polisi menangkap tersangka mucikari AB (19) dan P (26) dari Hotel Grand Aston dan Hotel Danau Toba.

Korban mereka adalah perempuan muda inisial N, yang dijadikan pekerja seks. Dari pengungkapan ini, polisi menyita 3 unit hape, 2 lembar kartu ATM, 2 kondom, 2 lembar slip transfer uang dan uang tunai Rp1,5 juta.

"Kami memprediksi masih banyak kasus prostitusi online dengan memanfaatkan media sosial. Mereka bermain dengan sejumlah akun twitter dan instagram. Inilah tantangan kecanggihan teknologi. Para penjahat dan predator seks terus berevolusi," terang Sandy Sinurat.

Yang tak kalah mengkhawatirkan adalah mucikari pelajar. Tersangka CNS (17) tahun, siswa salah satu sekolah di Medan ini telah beberapa kali menjual teman sekolahnya kepada pria hidung belang.

"Kasus ini terungkap ketika ibu korban, warga Deliserdang mengadu ke kami. Katanya, anaknya sudah beberapa hari tak pulang ke rumah, lalu kami usut," jelas Sandy.

Dari pengusutan itu akhirnya keberadaan korban inisial Ds (18) diketahui sedang berada di sebuah rumah di Delitua. Ia bersama seorang laki-laki. Polisi bergerak ke sana lalu mengamankan korban.

Sedangkan laki-laki itu dibebaskan, karena ia tidak terlibat dan hanya mengantarkan korban. Polisi kemudian menginterogasi korban lalu terungkaplah kalau dia sudah dijual ke pria hidung belang beberapa kali oleh mucikari yang tak lain temannya sendiri inisial CNS (17).

Dari informasi itu polisi menciduk tersangka CNS di Gang Dame, Tanjung Morawa. Namun, karena statusnya masih anak di bawah umur, polisi menitipkannya ke Pusat Panti Anak dan Remaja, Dinas Sosial Sumut.

Sedangkan korban dititipkan di Dinas Sosial Parawansa Berastagi, untuk pemulihan. Meski dititip ke Dinas Sosial, kata Sandy, proses hukumnya tetap berjalan.

"Tersangka CNS ini sudah beberapa kali menjual temannya ke pria hidung belang. Ada 1 lagi korbannya, sampai drop out dari sekolah. Ya motifnya, demi uang. Ia efek pergaulan bebas yang kebablasan," tandas Sandy.

Semenatara tersangka Y dan IP bercerita, mereka sudah delapan bulan menjalankan profesi sebagai mucikari, sedangkan Siska baru 6 bulan. Sedangkan Hendrik dan AB sudah 1 tahun 2 bulan.

Aktivitas ini langgeng karena belum pernah terendus polisi. Hingga akhirnya, laporan masyarakat menjadi pintu masuk pengungkapan kasus ini.

Sandy mengimbau agar orangtua lebih peduli kepada anak-anaknya serta mencegah supaya tidak terjerumus kepada pergaulan bebas yang berujung pada prostitusi.

Untuk kasus prostitusi online, pungkas Sandy, pihaknya akan terus mengusut jaringan-jaringan maupun akun-akun media sosial yang dimanfaatkan untuk bisnis prostitusi. (art/drc)

Editor: admin

T#g:mucikari sekspolda sumutseks bebas
Berita Terkait
  • Selasa, 05 Des 2017 00:34

    Jalan Provinsi Depan Polda Sumut Digenangi Banjir

    Direktur Lalulintas Polda Sumut Kombes Heru Prakoso terjun langsung mengurai kemacetan di ruas Jalan SM Raja, Medan, yang merupakan jalan provinsi, tepatnya di depan Mapolda Sumut, Senin 4 Desember 2017.

  • Rabu, 29 Nov 2017 23:57

    Corneti Sinaga Sudah Diserahkan ke JPU

    Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan dan Perizinan Infrastruktur, Ekonomi dan Sosial, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPM PPTSP) Sumut Corneti Sinaga, telah diserahkan penyidik Tipikor Polda Sumut kepada jaksa untuk disidangka

  • Rabu, 29 Nov 2017 22:50

    Orok Ditemukan Depan Kampus UISU

    Mahasiswa Universitas Islam Sumatra Utara (UISU), Jalan Sisingamangaraja, Medan, mendadak geger, dengan temuan orok di depan pintu gerbang kampus, Rabu 29 November 2017.

  • Rabu, 29 Nov 2017 00:25

    4 Pasangan Mesum Ditangkap dari Rumah Kos Dekat Masjid

    Empat pasangan mesum anak bawah umur ditangkap petugas Polsek Medan Kota, bersama pihak kelurahan di Jalan Turi, Lingkungan 11, Teladan Barat, Kecamatan Medan Kota, Kota Medan, Sumut Selasa 28 November 2017.

  • Minggu, 26 Nov 2017 01:12

    Bupati Asahan Dipanggil ke Bareskrim, Afif: Mudah-mudahan jadi tersangka

    Polda Sumut akhirnya memanggil Bupati Asahan Taufan Gama Simatupang untuk mengikuti gelar perkara kasus lahan Yayasan PMDU Kisaran di Bareskrim Polri, Jakarta.

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2017 drberita.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir