• Home
  • Under Cover
  • 7 Mucikari Ditangkap, Polda Sumut Akui Kejahatan Seks di Medan Terus Berevolusi

7 Mucikari Ditangkap, Polda Sumut Akui Kejahatan Seks di Medan Terus Berevolusi

Rabu, 08 Nov 2017 00:43
Dibaca: 549 kali
drberita/istimewa
7 Mucikari seks di Polda Sumut.
Perindo
DINAMIKARAKYAT - Polda Sumut menciduk 7 mucikari dari sejumlah hotel di Medan dan Deliserdang. Ketujuh pelaku ini terlibat kasus memperdagangkan perempuan muda untuk dijadikan pekerja seks komersial (PSK).

"Kasusnya beda-beda. Ada yang terlibat kasus dengan modus mengirimkan tenaga kerja (TKI) ke Malaysia, tapi ujung-ujungnya dijadikan pelacur. Ada kasus prostitusi online dengan memanfaatkan media sosial. Satu lagi kasus prostitusi model tradisional, yaitu menjual kawan sekolahnya," beber Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Sumut Kombes Andi Ryan, Selasa 7 November 2017.

Ketujuh mucikari tersebut terdiri dari 6 perempuan dan 1 laki-laki. Tersangka pria berinisal HPS (32) alias Hendrik, warga Dusun Pekan, Kelurahan Pangkalan Palang, Kecamatan Pangkatan, Labuhanbatu.

Sedangkan mucikari perempuan, yakni IP (22) dan Y (24) warga Sunggal, AB (19) dan P (26), PA (23) alias Siska, warga Grobokan Purwodadi dan CNS (17), siswa SMA di Medan.

Andi Ryan menjelaskan, Hendrik, IP, Y dan AB serta P merupakan mucikari yang menawarkan jasa seks melalui media sosial, khususnya twitter dan instagram untuk menjual perempuan muda dalam bisnis prostitusi. Sedangkan CNS, yang masih pelajar nekat menjual teman sekolahnya sendiri kepada lelaki hidung belang.

"Kalau Siska, dia mucikari yang menjual perempuan dengan modus mengirim TKI. Ia bermain di Jogja. Ia memantau potensi cewek-cewek nakal. Lalu didekati dan direkrut dengan menjanjikan jadi TKI. Calon korbannya dikirim ke Malaysia, awalnya jadi terapis di tempat spa namun ujung-ujungnya dijadikan pelacur," beber Andi Ryan.

Terungkapnya kasus ini ketika 25 Oktober lalu, polisi mengamankan 2 perempuan dari Hotel Wings di Tanjung Morawa. Kedua perempuan itu, yakni Siska (mucikari) dan SF (korban).

Siska hendak mengirimkan SF ke Malaysia via Bandara Kualanamu. Siska menjanjikan kepada SF untuk dipekerjakan sebagai terapis spa di Hotel Cassanova, Jalan Alor Bukit Bintang, Kuala Lumpur.

Di tangan Siska ada 5 paspor lagi dengan nama berbeda serta tiket pesawat ke Kuala Lumpur. Ternyata pelaku Siska dan korban SF serta 5 nama lainnya yang akan berangkat ke Malaysia tidak dilengkapi dokumen resmi, hanya paspor sebagai pelancong.

Polisi yang menyaru sebagai sopir taksi online lalu berperan mengantar korban ke Bandara Kualanamu. Di bandara, polisi kemudian mengamankan 2 korban lainnya yang sedang menunggu pesawat untuk berangkat ke Malaysia. Kedua korban lainnya ini perempuan berinisial AD dan EW.

"Siska ini membelikan tiket pulang pergi untuk para korbannya, sehingga mereka bisa pulang-pergi sekali sebulan. Tujuannya agar kedoknya tidak terbongkar. Kan paspornya untuk melancong. Namun tiket yang dibelinya wajib dibayar kembali oleh para korban melalui pemotongan honor kerja sebagai PSK. Ini kan namanya menjerat korban lagi dengan modus beban utang," timpal Kasubdit 4/Renakta Ditreskrimum Polda Sumut, AKBP Sandy Sinurat.

Sandy menambahkan, pihaknya menyelidiki kasus ini dengan mengirim tim investigatif ke Malaysia. Para korbannya, kata dia, oleh lelaki hidung belang, dibawa ke hotel. "Kami sedang mengembangkan kasus ini. Kami juga sudah koordinasi dengan pihak KBRI dan konsulat di Malaysia," ungkapnya.

Untuk kasus prostitusi online, Sandy Sinurat membeberkan pengungkapan berawal dari masuknya pesan singkat (sms) ke nomor hapenya. Isinya membocorkan akun-akun twitter dan instagram yang khusus menawarkan jasa seksual.

"Saya tak tau siapa pengirimnya. Namun tim kami menyelidiki informasi tersebut. Dan ternyata, akun-akun yang disebutkan itu benar terlibat kasus prostitusi. Nah sudah mantap ini, pikirku. Langsung kami buru," beber Sandy Sinurat.

Tim pun dipecah. Ada menyelidiki akun twitter @nonniemedan dan whatsapp Nonnie Medan. Terungkaplah mucikari berinisial HPS alias Hendrik. Akun ini menyediakan wanita PSK dengan tarif bervariasi. Short time Rp1,5 juta, long time Rp3 juta.

"Kami pancing. Hari Kamis kemarin, anggota menyaru sebagai pengguna jasa PSK. Uang sejuta kami transfer ke rekening atas nama Nurul Wahida untuk membooking dua PSK," terang Sandy.

Esoknya, akun @nonnie mengirimkan dua PSK ke Hotel Soechi di Jalan Cirebon, kamar 725. Kedua PSK itu inisial NCGS alias Nova (21) warga Helvetia dan NCSAP (22) alias Putri warga Sergai.

Jam 03.00 wib, personil menggali informasi dari kedua PSK kemudian kembali mengontak akun @nonniemedan untuk memancingnya. Personil yang menyaru meminta agar kedua PSK itu diperpanjang masa bookingnya hingga 2 hari lagi dengan janji menambah bayaran Rp10 juta. Namun uang muka untuk perpanjangan hanya dijanjikan Rp1 juta.

Pemilik akun @nonniemedan pun mau bertemu untuk transaksi di hotel. Setelah memakan 'umpan', Hendrik pun diringkus polisi lalu diboyong ke Polda Sumut.

Selain mengamankan kedua korban yang dijadikan PSK, dari tangan Hendrik polisi menyita uang tunai Rp3 juta, 4 hape, 2 lembar kartu ATM, 1 buku tabungan, selembar slip setoran senilai Rp2 juta, 1 unit sepeda motor BK 6670 YAC dan STNK atas nama dokter Rosmina.

Polda sumut juga menciduk mucikari lain terlibat kasus prostitusi online. Tersangka inisial IP dan Y ditangkap di Hotel Emerald Garden, Jalan Yos Sudarso, dengan barang bukti 6 buah kondom, sebuah hape, uang kontan Rp900 ribu dan selembar kartu ATM.

Dari pengungkapan ini, polisi menyelamatkan 2 orang korban, yakni perempuan muda inisial In (24) dan El (24).

Masih terkait kasus prostitusi online, polisi menangkap tersangka mucikari AB (19) dan P (26) dari Hotel Grand Aston dan Hotel Danau Toba.

Korban mereka adalah perempuan muda inisial N, yang dijadikan pekerja seks. Dari pengungkapan ini, polisi menyita 3 unit hape, 2 lembar kartu ATM, 2 kondom, 2 lembar slip transfer uang dan uang tunai Rp1,5 juta.

"Kami memprediksi masih banyak kasus prostitusi online dengan memanfaatkan media sosial. Mereka bermain dengan sejumlah akun twitter dan instagram. Inilah tantangan kecanggihan teknologi. Para penjahat dan predator seks terus berevolusi," terang Sandy Sinurat.

Yang tak kalah mengkhawatirkan adalah mucikari pelajar. Tersangka CNS (17) tahun, siswa salah satu sekolah di Medan ini telah beberapa kali menjual teman sekolahnya kepada pria hidung belang.

"Kasus ini terungkap ketika ibu korban, warga Deliserdang mengadu ke kami. Katanya, anaknya sudah beberapa hari tak pulang ke rumah, lalu kami usut," jelas Sandy.

Dari pengusutan itu akhirnya keberadaan korban inisial Ds (18) diketahui sedang berada di sebuah rumah di Delitua. Ia bersama seorang laki-laki. Polisi bergerak ke sana lalu mengamankan korban.

Sedangkan laki-laki itu dibebaskan, karena ia tidak terlibat dan hanya mengantarkan korban. Polisi kemudian menginterogasi korban lalu terungkaplah kalau dia sudah dijual ke pria hidung belang beberapa kali oleh mucikari yang tak lain temannya sendiri inisial CNS (17).

Dari informasi itu polisi menciduk tersangka CNS di Gang Dame, Tanjung Morawa. Namun, karena statusnya masih anak di bawah umur, polisi menitipkannya ke Pusat Panti Anak dan Remaja, Dinas Sosial Sumut.

Sedangkan korban dititipkan di Dinas Sosial Parawansa Berastagi, untuk pemulihan. Meski dititip ke Dinas Sosial, kata Sandy, proses hukumnya tetap berjalan.

"Tersangka CNS ini sudah beberapa kali menjual temannya ke pria hidung belang. Ada 1 lagi korbannya, sampai drop out dari sekolah. Ya motifnya, demi uang. Ia efek pergaulan bebas yang kebablasan," tandas Sandy.

Semenatara tersangka Y dan IP bercerita, mereka sudah delapan bulan menjalankan profesi sebagai mucikari, sedangkan Siska baru 6 bulan. Sedangkan Hendrik dan AB sudah 1 tahun 2 bulan.

Aktivitas ini langgeng karena belum pernah terendus polisi. Hingga akhirnya, laporan masyarakat menjadi pintu masuk pengungkapan kasus ini.

Sandy mengimbau agar orangtua lebih peduli kepada anak-anaknya serta mencegah supaya tidak terjerumus kepada pergaulan bebas yang berujung pada prostitusi.

Untuk kasus prostitusi online, pungkas Sandy, pihaknya akan terus mengusut jaringan-jaringan maupun akun-akun media sosial yang dimanfaatkan untuk bisnis prostitusi. (art/drc)

Editor: admin

T#g:mucikari sekspolda sumutseks bebas
Berita Terkait
  • Jumat, 23 Mar 2018 01:19

    Akibat Pembuatan Gorong-gorong, Pipa PDAM Depan Polda Sumut Direlokasi

    Gangguan pelayanan terjadi sehubungan dengan pekerjaan relokasi pipa transmisi diameter 600 mm di lokasi Jalan Medan - Tanjung Morawa depan Polda Sumut.

  • Kamis, 22 Mar 2018 01:00

    Kasus Bupati Asahan, Keluarga Korban: Aparat penegak hukum bertindak semena-mena

    Laporan pertama, dengan LP Nomor. 243/III/2016/Bareskrim, terkait penggelapan barang tidak bergerak dan menempatkan keterangan palsu dalam LHKPN Bupati Asahan, setelah 2 tahun dilaporkan, akhirnya dihentikan Penyidik dengan alasan tidak cukup bukti.

  • Senin, 12 Mar 2018 00:18

    Kejatisu Terima Limpahan Berkas dan Tersangka Kasus Korupsi Alkes RSU Swadana dari Polda Sumut

    Kejatisu menerima pelimpahan berkas perkara dan barang bukti bersama tersangka dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan (alkes) dan Keluarga Berencana (KB) Rumah Sakit Umum (RSU) Swadana, Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara, tahun 2012.

  • Minggu, 11 Mar 2018 23:49

    2 Tahun DPO, Mafia Tanah Dibawa Pengacaranya ke Polda Sumut

    Ratna Erina Siahaan, istri dr Natigor Sipahutar mengapresiasi respon Kapoldasu Irjen Paulus Waterpauw serta jajaran Ditreskrimum yang bergerak cepat atas pengaduannya untuk mengungkap dugaan adanya permainan mafia tanah di Kota Medan.

  • Jumat, 02 Feb 2018 01:02

    Jaksa Kebut Berkas Tersangka Mujianto

    Penelitian berkas dilakukan selama 14 hari kerja, setelah berkas dilimpahkan dari Polda Sumut ke Kejati Sumut, setelah diteliti dan unsur penyidikan memenuhi, baru kemudian berkas perkara dinyatakan lengkap (P-21).‎

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2018 drberita.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir