Bank Sumut

Enzo Allie Vs Mahfud MD

Selasa, 13 Agu 2019 20:28
Dibaca: 298 kali
drberita/istimewa
Mahfud MD dan Enzo Allie.
Oleh Hersubeno Arief

DRBerita - Kalau saja Mahfud MD tidak gagal jadi cawapres, ceritanya pasti akan berbeda. Bangsa Indonesia yang sudah terbelah dalam dua poros 01 dan 02, akan terpuruk kian dalam.

Pernyataan Mahfud bahwa TNI KECOLONGAN karena meloloskan Enzo Allie menjadi calon taruna Akademi Militer (Akmil) menimbulkan kegaduhan yang tidak perlu. Di media sosial para buzzer paslon 01 dan 02 kembali bertempur. Mereka kembali saling serang.

Di media massa isu Enzo juga menyita perhatian. Sejumlah tokoh mulai dari Menhan Ryamizard Ryacudu, KSP Moeldoko, sampai KSAD Jenderal TNI Andhika Perkasa diburu media. Mereka dimintai pendapatnya.

Enzo Zenz Allie (18) seorang remaja blasteran Perancis (Ayah) dan Indonesia (Ibu) ramai diperbincangkan. Videonya berdialog dengan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dalam bahasa Perancis, viral.

Selain bahasa Perancis, Enzo juga fasih bahasa Inggris, Italia, Arab, dan tentu bahasa Indonesia. Kemampuan bahasa Arabnya dia peroleh di pesantren.

Secara fisik Enzo juga jempolan. Dari hasil tes Samapta, Enzo mampu melakukan pull up 19 kali, sit up 50 kali dan push up 50 kali masing-masing dalam waktu 60 detik. Enzo juga mampu berlari 7,5 putaran X 400 meter atau 3.000 meter dalam 12 menit, renang 50 meter dalam 60 detik.

Dilihat dari kecerdasan linguistik dan ketangguhan fisik, Enzo diperkirakan akan menjadi prajurit yang mumpuni. Paripurna. Cocok dengan cita-citanya menjadi prajurit komando. Satu lagi modalnya yang jarang dimiliki calon taruna, adalah pemahaman keagamaannya. Dia pernah menjadi santri di sebuah pondok pesantren di Serang, Banten.

Tak lama setelah video Enzo viral, buzzer yang terinditifikasi dengan paslon 01 mulai menggoreng isu Enzo. Mereka menemukan di akun medsosnya, Enzo berfoto dengan bendera hitam bertulis kalimat tauhid (Tiada Tuhan selain Allah).

Bendera bernama Ar-Rayah itu merupakan panji perang di masa Rasululloh Muhammad SAW. "Temuan" itu kemudian dikait-kaitkan dengan organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang juga mempunyai bendera yang mirip. Enzo diduga sebagai pemuda yang terpapar kelompok radikal. Stigma yang bisa menjadi hukuman mati bagi karir militernya.

Para buzzer ini juga menelusuri akun media sosial Hadiati Basjuni Allie. Di akun Hadiati yang tergabung dalam emak-emak militan Prabowo-Sandi ini juga didapati memposting sejumlah bendera tauhid. Namun tidak ada kalimat spesifik yang menyatakan dukungannya terhadap HTI.

Tak ada ampun, Enzo dan ibunya digoreng habis para buzzer. Sayangnya sejumlah tokoh termasuk Mahfud MD bukan meredakan kehebohan, namun malah terlibat menambah bara kebencian.

Mahfud menyebut TNI kecolongan. Karena itu dia menyarankan TNI segera memecat dan memberhentikan Enzo karena telah terpapar paham radikal. Kalau toh tidak dipecat, Enzo diperkirakan Mahfud bakal tidak kerasan di Akmil setelah diberitakan besar-besaran.

"Kalau sudah diberitakan seperti itu masih kerasan, maka perlu dipertanyakan benar motivasinya," tambahnya.

Sungguh disayangkan figur terhormat seperti Mahfud MD berperilaku seperti buzzer. Hanya bermodal info medsos yang digoreng buzzer langsung mengambil kesimpulan seperti itu. Kalau buzzer motivasinya sangat jelas. Ekonomi dan kebencian. Mereka hanya bisa hidup ketika situasi politik gaduh dan keruh.

Apakah Mahfud sudah terjerembab dalam motivasi serupa yang sangat rendah? Atau ada motif lain, berupa motif kuasa? Masa iya figur seperti dia serendah itu?

Masa depan seorang anak muda dia korbankan dengan statemennya yang sangat gegabah. Pernyataannya juga bisa mendorong publik makin membenci bendera tauhid yang dia asosiasikan sebagai kelompok radikal. Soal ini jauh lebih serius. Menimbulkan stigma buruk bagi umat Islam

Untungnya para petinggi militer tidak begitu saja menelan mentah-mentah saran Mahfud yang pernah menjadi Menhan pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid.

Menhan Ryamizard Ryacudu mempercayakan sepenuhnya kepada TNI AD. Sementara KSAD Jenderal Andhika menyatakan phaknya sedang melakukan penelitian secara scientific. Jadi tidak asal main pecat.

Dalam era post truth dan masyarakat yang terbelah seperti Indonesia saat ini, sangat baik bila semua pihak menahan diri. Tidak mudah mengumbar pernyataan, apalagi isu yang hanya membuat masyarakat kian terbelah.

Tidak ada gunanya bila di level elit politik terjadi proses "rekonsiliasi". Sementara di level bawah, level akar rumput masyarakat terjerembab pembelahan yang kian dalam. Pasti bukan bangsa seperti ini yang kita bayangkan ketika para wakil rakyat, cerdik pandai mengadopsi sistem demokrasi langsung.

Sekali lagi: Untung saja Mahfud MD gagal menjadi cawapres. Andai saja saat ini dia yang terpilih menjadi capres, bukan Ma'ruf Amin. Apa jadinya bangsa ini? End

Editor: admin

Sumber: fnn.co.id

T#g:akmil tnienzo alliemahfud mdtni
Berita Terkait
  • Senin, 23 Sep 2019 12:13

    Pesan Edy di HUT ke 54 Yonif Raider 100/PS

    Wilayah Sumatera Utara yang cukup luas dan sumber daya alam yang besar, namun infrastrukturnya yang masih terbatas serta sumber daya manusianya yang masih perlu ditingkatkan kualitasnya merupakan tantangan khusus bagi aparatur di daerah, termasuk prajurit

  • Sabtu, 07 Sep 2019 14:37

    Imbas Festival Multi Etnis, 2 Anggota DPRD Medan Minta Eldin Copot Kadis Kebudayaan

    Hendra dan anggota Fraksi Golkar Ilhamsyah menganggap Dinas Kebudayaan tidak mampu menyajikan kesenian yang berkualitas. Tidak sekedar kesenian bersifat hiburan, akan tetapi memiliki fungsi pembinaan pada kesenian itu sendiri.

  • Jumat, 06 Sep 2019 20:22

    Masyarakat Belawan Dapat MCK dan Sumur Bor dari Persit KCK PD I Bukit Barisan

    MCK dan Sumur Bor dalam rangka bakti sosial Persit Kartika Chandra Kirana PD I Bukit Barisan, telah diresmikan di Jalan Taman Makan Pahlawan, Kelurahan Belawan I, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan.

  • Selasa, 03 Sep 2019 22:26

    Dewan Kesenian Medan Protes Festival Multi Etnis

    Anggaran kegiatan yang tergolong lumayan besar ini, jika dibandingkan dengan kondisi di lapangan tidak terlalu mewah. Sebaliknya, kegiatan kelihatan biasa-biasa saja.

  • Sabtu, 24 Agu 2019 00:01

    Melihat Latihan Nembak Senjata Berat TNI AD 2019

    Latihan menembak senjata berat terintegrasi yang melibatkan rudal-rudal canggih kesenjataan Artileri Pertahanan Udara (Arhanud) TNI AD, untuk menguji kemampuan alutsista terbaru yang akan diikutkan dalam latihan gabungan TNI 2019.

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2019 drberita.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir