Bank Sumut

Melihat Jejak Sejarah Kesultanan Langkat

Oleh: Artam
Senin, 02 Sep 2019 15:06
Dibaca: 212 kali
drberita/istimewa
Istana Kesultanan Langkat.
DRberita | Melangkah dari Magtab Madrasah Tsanawiyah Jami'ah Mahmudiyah, Tanjung Pura, yang dibangun Kesultanan Langkat pada tahun 1892, Pemprov Sumut, bersama LSM LIPPSU dan Yayasan Daun Sirih, berencana akan melaksankan kegiatan "Napak Tilas Jejak Sejarah Kesultanan Langkat" Oktober mendatang.

Pagi itu, Minggu 1 September 2019, pukul 07.00 WIB, bertemu di titik nol Kota Medan. Panitia napak tilas memersiapkan berangkatan ke Kabupaten Langkat. Tepat pukul 07.30 WIB, Direktur LIPPSU Azhari Sinik menerima telepon dari Sekda Provsu Sabrina. Bertemu, lalu rombongan berangkat bersamaan menuju Langkat.

Lokasi pertama yang dituju adalah Masjid Azizi, Kota Tanjung Pura. Perjalan ke sana memakan waktu kurang lebih 90 menit melalui jalan tol. Tim yang berangkat mendapingi Sabri diantaranya Azhari Sinik, Dede Ginting, Ucok Lubis, Arif Tanjung, Fahri Jenggot, Weno Gempal dan Arif Tampubolon.

Tepat pukul 09.00 WIB, rombongan tiba di Masjid Azizi, Kota Tanjung Pura. Rombongan disambut oleh Andi Black, warga setempat yang selama ini menjadi tim dan akan terlibat dalam Kepanitiaan Napak Tilas Jejak Sejarah Kesultanan Langkat.

Suasana kota Tanjung Pura terlihat sepi. Arus lalu lintas belum padat. Rombongan berkumpul dan Andi Black langsung mengarahkan rombongan ke Makam Pahlawan Nasional Tengku Amir Hamzah. Sekda Sabrina di makam terlihat berdoa dan rombongan selanjutnya bergerak ke belakang masjid.

Di belakang masjid Sabrina bertemu dengan pria bernama Muhammad Sis. Pria berjanggut keputihan ini ternyata PNS. Sis bertugas di Dinas Pariwisata Pemkab Langkat. Sis adalah pegawai yang ditugaskan untuk mengurus museum peninggalan sejarah Kesultanan Langkat.

Setelah berbicara dengan Sabrina dan Azhari Sinik, Sis kemudian mengambil telepon. Tak lama kemudian datang pria paruh baya dengan sepeda motor. Ternyata pria itu sekretaris yayasan yang mengurus Magtab Madrasah Tsanawiyah Jami'ah Mahmudiyah. Sabrina dan rombongan kemudian diajak berjalan menuju ke magtab.

Di magtab, Sabrina dan rombongan mendapat penjelasan tentang sejarah magtab dari pria itu. Setelah berkeliling dan melihat kondisi magtab, robongan bergerak ke makam Syech H Abdullah Afifudin. Di makam, rombongan juga mendapat penjelasan. Kondisi makam yang berada di kawasan magtab sepertinya membutuhkan perhatian dari pemerintah, begitu juga dengan kondisi magtabnya.

Beberapa menit di kawasan magtab, Sis terlihat berbicara dengan Sabrina. Sis terlihat manggut apa yang diucapkan Sabrina. Ia kemudian mengode Azhari Sinik untuk bergeser ke lokasi lain. Sis lalu berjalan ke belakang kawasan magtab, menyusuri sejumlah rumah warga yang ada di kawasan itu. Sekira seratus langkah Sis berhenti. Terlihat lahan terbentang di belakang Masjid Azizi yang dipenuhi rerumputan dan ilalang.

Ternyata lahan itu bekas Kolam Putri Kesultanan Langkat. "Ini kolam putri," ucap Sis sambil menunjuk ke arah lahan. Di sekitar kolam terlihat rumah-rumah warga, yang kata Sis adalah kuturunan dari para guru-guru magtab yang mendapat perumahan oleh Sultan Langkat pada masa itu. "Ini semua milik yayasan, mereka cuma tinggal, bukan milik mereka tanahnya," ucap Sis sambil menunjuk rumah-rumah tersebut.

Di kolam putri, Sabrina menyampaikan pesan ke Sis dan sekretaris yayasan. "Ini kolam bisa diberdayakan, bisa dibuat cantik. Bisa menernak ikan, ikannya bisa untuk penghasilan yayasan. Nanti kita bantu untuk perbaikan kolam ini seperti dulunya," ucap Sabrina diikuti anggukan Sis dan sekretaris yayasan.

Setelah mengelilingi kolam putri, Sabrina dan rombongan diajak Sis menuju museum. Di perjalanan, Sis menjelaskan bahwa museum dahulunya digunakan Kesultanan Langkat untuk mengadakan rapat kesultanan dalam menyelesaikan persoalan yang terjadi.

Tiba di museum, Sabrina langsung masuk ke dalam. Di dalam museum, terlihat sejumlah benda yang digunakan masyarakat pada masa Kesultanan Langkat. "Ini masih asli," kata Sis menunjuk kayu tegak berukuran 2 meter berada di sudut ruangan. Sis kemudian menjelaskan semua benda yang ada di dalam museum.

"Beginilah kondisinya bu, inilah yang bisa saya perlihatkan dengan ibu. sejak 15 tahun lalu hanya janji-janji saja yang ada dari pemerintah sini. Mau memerbaiki ini itu tapi faktanya, ibu lihat sendiri la di sini," urai Sis kepada Sabrina.

Sis kemudian mengajak robongan ke lokasi istana Kesultanan Langkat. Jaraknya setengah kilometer dari museum. "Masih sanggup ibu berjalan kan?" tanya Sis. Sabrina menganggu sambil tersenyum. "Masih pak, ayo kita lanjutkan ke sana," ucap Sabrina.

Sambil berjalan, Sis menjelaskan kondisi lokasi yang dulunya menjadi istana Kesultanan Langkat. "Ibu jangan terkejut nanti ya, soalnya lokasi bekas istana sudah rumah-rumah warga. Tapi nanti saya tunjukan batu tangga istana, masih terlihat," ucapnya.

Setelah berjalan sekira 15 menit, rombangan tiba di lokasi bekas istana Kesultanan Langkat. Lokasinya persis di pinggir jalan Kota Tanjung Pura. Terlihat di pinggir jalan itu sebuah sekolah dasar negeri milik Pemkab Langkat. Romobongan masuk dan berjalan ke belakang. Sis kemudian menunjukan batu yang bekas tangga istana. Kiri-kanan terlihat rumah-rumah warga. Namun ada tanah kosong yang diprediksi tempat berdirinya bangunan istana. Namun di atas tanah itu terlihat plank bertuliskan "Tanah ini Dijual, Hubungi S. Pasaribu".

"Ayo bu ke belakang. Saya mau tunjukan ke ibu ada tanda bekas bangunan istana. Di sana juga ada sungai yang dahulunya digunakan sebagai dermaga kapal-kapal kesultanan," ucap Sis.

Sabrina dan rombongan kemudian mengelilingi lokasi bekas istana Kesultanan Langkat. Terlihat jelas tembok batu bekas dinding istana belum bisa terbongkar, meski sudah banyak rumah-rumah warga di sekitar lokasi tersebut. Dermaga yang digunakan Kesultanan Langkat juga sudah jadi suangi mati. Kondisinya dipenuhi oleh tumbuhan eceng gondok yang sudah tinggi-tinggi. Terlihat lokasi bekas dermaga semak sekali.

Bersama Azhari Sinik dan rombongan, Sabrina berpoto di tembok batu dinding bekas Istana Kesultanan Langkat. "Ini menjadi bukti sejarah, bahwa di lokasi ini dulunya berdiri Istana Kesultanan Langkat, ini namanya jejak sejarah," ucapnya.

Setelah dari lokasi bekas Istana Kesultanan Langkat, Sabrina dan rombongan kemudian diarahkan Sis dan Andi Black menuju gapura pintu masuk Kesultanan Langkat. Sekira seratus meter dari lokasi itu terlihat gapura-gapura itu. Sis juga menunjukan drainase peninggalan kesultanan langkat yang tertutipi oleh bangunan kios warga di pinggir jalan Kota Tanjung Pura.

Terus berjalan menyusuri Kota Tanjung Pura, akhirnya rombongan sampai di bangunan gedung Datok Bendahara Kesultanan Langkat. Lokasinya cukup luas, tapi terlihat kurang tertata. Bangunan Datok Bendahara masih terlihat asli kontruksinya. Rombongan kemudian masuk ke dalam dan naik ke laintai dua bangunan.

Datok Bendahara adalah jabatan yang diemban oleh Datok Amar. Kini bangunan itu ditempati oleh cucu dari turunan Datok Amar. Di lantai dua kami disambut oleh Siti Nurlia. Ia adalah istri dari Iwaluddin, cucu dari Datok Amar. Usia Iwaluddin sudah 64 tahun.

"Bapak belum pulang, ada apa ya?" ucap Siti. Lalu Azhari Sinik menjelaskan kedatangan rombongan ke rumah bekas gedung Datok Bendahara Kesultanan Langkat itu. "Ini bu Sekda kita, bu Sabrina," ucap Azhari kepada Siti. Tak lama kemudian, sekira pukul 11.05 WIB, terlihat pria paruh baya datang.

Ternyata pria itu Iwaluddin, cucu dari Datok Amar, Datok Bendahara Kesultanan Langkat. Saling bersalaman dan memperkenalkan diri, Iwaluddin kemudian berbicara. Ia mengaku cucu dari Datok Amar, dulunya Datok Bendahara Kesultanan Langkat.

"Sayu cucunya Datok Amar, usia saya sekarang sudah 64 tahun. Saya tinggal di sini bersama anak cucu saya. Sampai saat ini baru asbes dan cet rumah yang kami ganti, semuanya masih asli sejak dibangun tahun 1892 lalu," jelasnya.

Kontruksi rumah, lantai dan dinding yang terbuat dari kayu damar, terasa sejuk berada di dalamnya karena angin berhembus masuk melalui jendela-jendela rumah. "Pernah ada orang datang kemarin mau memperbaiki ini rumah, tapi dia minta semua kayu bangunan rumah ini untuknya. Saya tolak, sejak saat itu tidak ada lagi orang datang," sambung Iwaluddin.

Siti yang sejak tadi mendapingi suaminya kemudian menunjukan poto asli Istana Kesultanan Langkat. Dari dalam lemari, iya lalu mengambil poto yang terbingkai. Poto istana terlihat hitam-putih. "Ini bu poto asli istana," ucapnya kepada Sabrina.

Setelah beberapa lama di rumah Datok Bendahara, Sabrina dan rombongan melanjutkan perjalanan menuju kawasan religi di Desa Babussalam. Perjalan sekira 15 menit. Sesampainya di Desa Babussalam, Kecamatan Padang Tualang, Sabrina dan rombongan disambut Khalifa Zaidan, murid dari Tuan Guru Babussalam Syekh Haji Hasyim Al-Syarwani.

Sabrina dan rombongan kemudian melaksanakan sholat Zuhur berjama'ah. Setelah itu bertemua dengan putra tuan guru Syekh Haji Hasyim Al-Syarwani. Tak lama di dalam ruangan yang ramai dikunjungi umat islam, Sabrina dan rombongan keluar. Setelah itu melanjutkan perjalanan, balik ke Masjid Azizi.

Sis dan Andi Black yang dari awal mengikuti rombongan diturunkan di Masjid Azizi. Sis ingin rombongan ke Kecematan Slapian. "Kapan lagi datang ibu dan pak Ari, kalau bisa kita ke Slapian, di sana ada Pura peninggalan sejarah sebelum Kesultanan Langkat. Pura itu berada di dalam goa," kata Sis.

Azhari kemudian meminta Sis untuk mengagendakan waktu untuk catatan situs sejarah di Langkat. "Mungki akhir pekan depan lagi kami datang, sekalian kita datangi lagi di mana-mana situs sejarah yang ada," jawabnya.

Sabrina dan rombongan kemudian berpamitan dengan Sis dan warga lainnya. Waktu sudah menunjukan pukul 15.10 WIB, rombongan bergerak meninggalkan Masjid Azizi menuju kembali ke Kota Medan. (art/drc)

Editor: admin

T#g:istana kesultanan langkatjejak sejarah kesultanan langkatkawasan religi babussalam
Berita Terkait
  • Senin, 02 Sep 2019 11:06

    LIPPSU Dampingi Sabrina Tinjau Jejak Sejarah dan Kawasan Religi di Langkat

    Jejak sejarah Kesultanan Langkat kini menjadi perhatian. Pemeritah Provinsi Sumatera Utara menemukan 113 situs peninggalan sejarah. Langkah awal yang diambil dengan meninjau ke situs sejarah.

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2019 drberita.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir