Bank Sumut
  • Home
  • Hukum
  • 9 Saksi Termasuk Dzulmi Eldin Ungkap Biaya Perjalanan Dinas ke Uchikawa

Sidang Perkara OTT Suap Walikota Medan

9 Saksi Termasuk Dzulmi Eldin Ungkap Biaya Perjalanan Dinas ke Uchikawa

Jumat, 10 Jan 2020 02:13
Dibaca: 107 kali
drberita/istimewa
Sembilan saksi Isa Ansyari di Pengadilan Tipikor Medan
Bobby Nasution Center
DRberita | Jaksa KPK menghadirkan sembilan orang saksi termasuk Walikota Medan nonaktif Dzulmi Eldin untuk terdakwa mantan Kadis PUPR Isa Ansyari di Pengadilan Tipikor Medan, Kamis 9 Januari 2019.

Selain Eldin, saksi yang hadir Asisten Pemerintahan Pemko Medan Musaddat, mantan Kadis Pendidikan Hasan Basri, Sekretaris Pendidikan Johan Batubara, Kasi Pemeliharaan Dinas PUPR Medan Fikri, Staf Protokoler Tata dan Sutan, Vincent dari biro perjalanan dan bendahara pengeluaran Ade Irmayani.
 
Dalam persidangan terungkap bahwa biaya perjalanan dinas Dzulmi Eldin dan rombongan ke Ichikawa, Jepang, dalam rangka pertemuan 'Sister City' ditampung dalam APBD Kota Medan hanya Rp500 juta. Namun membengkak dan menelan biaya Rp1,4 miliar.

Dalam kesaksiannya, Dzulmi Eldin mengakui kekurangan dana itu biasanya dicicil. Ia juga menegaskan tidak pernah menyuruh Kasubag Protokoler Syamsul Fitri Siregar untuk mencari uang.

Eldin mengungkapkan alasan mengapa membawa istri dan anaknya ketika pergi ke Uchikawa, Jepang pada Juli 2019 lalu.

"Yang ikut dari keluarga saya ada Rendi Edriansyah Eldin dan Rania Kamila, teman anak saya Amran S Batubara," kata Eldin.

Eldin mengatkan dirinya akan bertanggung jawab akan hal tersebut. "Pertimbangann saya, hanya ingin membawa keluarga. Saya yang harus pertanggungjawabankan," cetusnya.

Sementara mantan Kadis Pendidikan Hasan Basri mengaku pernah didatangi Syamsul Fitri (tersangka berkas terpisah) untuk diminta uang sebanyak Rp20 juta untuk keperluan dinas Eldin.

"Waktu itu pada 2018 lalu, namun hanya memberikan uang Rp10 juta," ucap Hasan sembari menguatkan bahwa pemberian itu tidak ada kaitannya dengan 'Sister City' Medan dan Ichikawa.

Sekretaris Dinas Pendidikan Johan Batubara membenarkan ia pernah didatangi Syamsul Fitri. Waktu itu kata Johan, sekitar bulan Oktober. Katanya uang itu untuk perjalanan Walikota Eldin ke Jakarta. Karena rasa solidaritas, Johan memberikan uang Rp100 juta. Uang itu diserahkannya kepada Andika yang merupakan staf prokoler.

Mendengar jawaban itu, Ketua Majelis Hakim Tipikor Abdul Aziz menanyakan, kenapa uang itu kamu (Johan) berikan, kan ada atasanmu Kadis Pendidikan Medan Marasutan Siregar?

Johan menjawab kalau itu hanya solidaritas dan uang yang diberikan berasal dari tunjangan jabatan yang diperolehnya sebesar Rp17,5 juta perbulan.

Dua staf Protokoler Pemkot Medan Tata dan Sutan membenarkan ada kekurangan pembayaran ke biro perjalanan. Biaya perjalanan dinas Eldin dan rombongan ke Ichikawa ditampung di APBD hanya sebesar Rp500 juta.

Tata mengakui menerima uang Rp800 dari Syamsul Fitri untuk panjar kepada biro perjalanan kepada Erni Tour And Travel milik Tandeanus yang membawa Eldin dan rombongan ke Ichikawa, Jepang. Selanjutnya kekurangan Rp600 juta bisa ditutupi. Uangnya juga diserahkan oleh Syamsul Fitri.

Selain PNS, ada juga keluarga dari Eldin serta para istri kepala dinas yang ikut berangka ke Ichikawa, Jepang.

Asisten Pemerintahan Kota Medan Musadad mengatakan perjalanan dinas ke Jepang sudah diatur dalam ketentuan dari pihak Ichikawa. Sedangkan masalah tiket, Musaddad menyebutkan dari biaya pribadi.

Sementara itu, Bendahara Pengeluaran Pemkot Medan Ade Irmayani menyatakan uang untuk keberangkatan hanya Rp500 juta. Mengenai kekurangan, ia pun tidak mengetahui. Namun setahunya biaya itu sudah lunas dibayar ke biro perjalanan.

Hal itu dikuatkan Vincent saksi dari biro perjalanan. Ia membenarkan semua biaya sudah dilunasi dengan tanda bukti kwitansi dari Bagian Umum Pemkot Medan.

Di persidangan Fikri Kasi Perawatan Dinas PUPR Medan, mengatakan ada diperintahkan untuk mengambil fee proyek dari rekanan. Bahkan fee tersebut diambil sebelum pelaksanaan tender.

Majelis kembali mencecar; "Hebat kamu ya, kok bisa kau ambil fee, bagaimana pula kalau tak menang dan berapa fee yang kau kutip?" tanya Ketua Majelis Hakim.

Fikri dengan santai menjawab bahwa fee yang dikutip berdasarkan nilai proyek, mulai dari Rp50 hingga Rp200 juta. Jika tidak menang, maka dia akan mengembalikan uang (fee) baik cash maupun dicicil.

Namun ketika ditanyakan uang (fee) yang dikumpulkan apakah sebagian disetorkan untuk perjalanan dinas?, Fikri menyatakan untuk biaya operasional saja. Dia juga mengaku tidak mengenal Syamsul Fitri Siregar Kasubbag Protokol Pemko Medan. (art/drc)

Editor: admin

T#g:dzulmi eldinott walikota medansidang suap eldinsidang suap walikota medantersangka walikota medan
Berita Terkait
  • Jumat, 17 Jan 2020 19:19

    Pertama Sejak Berdiri, KPK Gelar Rekonstruksi Kasus OTT di Medan

    Rekonstruksi KPK ini bertujuan untuk melengkapi berkas perkara dan mengetahui gambaran peristiwa Operasi Tangkap Tangan (OTT) suap Walikota Medan Dzulmi Eldin dan Kadis PU Isa Ansyari.

  • Jumat, 17 Jan 2020 12:28

    Syamsul Fitri Bersikukuh Diperintah Walikota Medan

    Mendengar itu, Ketua Majelis Hakim Abdul Azis maupun Jaksa KPK menanyakan, kalau bersisa sebesar Rp180 juta kenapa membengkak sampai Rp900 juta, lalu uang yang digunakan itu apakah berasal dari Dinas Perhubungan dan BP2RD sajakah?

  • Jumat, 17 Jan 2020 12:13

    Ayah Saksi, Mahyudi Terkejut Ada Transfer Rp200 Juta Masuk Rekening dari Isa Ansyari

    Dalam menutupi proses penyetoran uang untuk biaya perjalanan dinas tersangka Walikota Medan Dzulmi Eldin ke Jepang yang berasal dari Kadis PU Isa Ansyari, saksi menggunakan rekening orang tuanya.

  • Jumat, 17 Jan 2020 11:25

    Pengkuan Iswar, Suherman dan Emilia di Pengadilan Tipikor Medan

    Saksi di antaranya Kadis Perhubungan Iswar Lubis, Kadis BP2RD Suherman dan Kadis Ketahanan Pangan Emilia Lubis bersama sembilan orang saksi lainnya yang hadir dalam persidangan terdakwa Kedis PU Isa Ansyari.

  • Rabu, 15 Jan 2020 17:47

    Rekanan Minta Plt Kadis PU Medan Profesional Kelola Anggaran 2020

    Kasus Operasi Tangkap Tangan (OTT) suap Kadis PU Isa Asyari dan Walikota Medan Dzulmi Eldin harus menjadi cermin Plt Kadis Zulfansyah untuk profesiaonal mengelola anggaran tahun 2020.

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2020 drberita.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir